LUWU – Potensi pertanian di Kabupaten Luwu dapat dikatakan sangat luar biasa. Hal itu dibuktikan dengan adanya luas lahan persawahan sekitar 69.635 Hektar (Ha) yang produksi padinya pertahun mencapai 312.794 ton.
Namun, Pemda Luwu, terkhusus Dinas Pertanian Kabupaten Luwu dianggap selalu melakukan pembiaran saat panen raya datang.
Menurut Rivaldi, ketua Asosiasi Tani Muda Luwu Raya, saat ini yang menjadi problem masyarakat ialah terjadinya permainan harga padi dan sulitnya menjual beras hasil panen mereka.
“Bahkan baru-baru DPRD Kabupaten Luwu komisi II melakukan rapat dengar pendapat dan mendesak Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) serap beras petani di Luwu untuk menampung hasil pertanian kabupaten luwu agar tidak terjadi berulang ulang permainan harga padi dan masyarakat tidak kesulitan menjual beras hasil panen mereka,” kata Rivaldi Rivaldi, Minggu (23/05/2021).
Tak hanya itu, Rivaldi menilai anjloknya hasil pertanian di kabupaten Luwu karena tidak bagusnya manajemen kordinasi yang dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Luwu dengan pihak Bulog.
Seandainya Pemda Luwu belajar dari Pemda di Sidrap yang sebelum terjadinya panen raya selalu melakukan kordinasi bersama stakholder terkait untuk lakukan sinergi, ini yang kami nilai tidak di lakukan Dinas Pertanian Kabupaten Luwu sebagi fasilitator instansi terkait,” jelasnya.
Diketahui, Kabupaten Luwu menjadindaerah terakhir panen raya di Sulsel. Dengan hasil petani yang cukup melimpah.
“Ada sekitar 34 ribu hektar sawah yang panen, setelah kita hitung sekitar 119 ribu ton beras,” kata Rivaldi.
“Sayangnya petani kita menjerit, mereka tidak bisa menjual beras di harga yang normal seperti biasanya. Bulog salah satu yang diharap mampu menyerap hasil panen petani sama sekali tidak bisa berbuat sesuai harapan, hanya karena alasan gudang penyimpanan mereka full,” tambahnya.
Melihat semua itu, Rivaldi, yang juga mantan ketua PKPT IPMIL Raya Upri mendesak Pemda Luwu dalam hal ini Dinas Pertanian Luwu untuk Kordinasi dengan Pihak bulog dalam menyelesiakan kesulitan petani di Kabupaten Luwu yang dikenal sebagai daerah lumbung padi.
“Informasi yang kami advokasi di lapangan, dalam satu sampling kecamatan Lamasi Timur, Kabupaten Luwu, petani mengakui harga padi timbang basa dan beras saat ini sangatlah turun,” ujarnya
Menurut nya, di banding tahun kemarin yang di mana harga padi timbang basa mencapai Rp. 4200- Rp. 4500/kg dan harga beras mencapai Rp. 8500- Rp. 9000/kg, namun di tahun ini padi timbang basa di awal panen Rp. 3900/kg dan pertengahan panen turun lagi di angka Rp. 3700/kg dan detik ini malah menurun lagi ke angka Rp. 3400/kg sedangkan harga beras di pasar saat ini menurun drastis yaitu di angka Rp. 6500/kg.
“Masalah ini harus di carikan solusi dengan cepat, apalagi dalam kondisi cuaca yang kurang baik, dapat terjadi pembusukan padi, belum lagi ada petani yang ingin melunasi hutang mereka karena meminjam saat mulai menanam atau ingin membayar sewa alat panen. Ini harus dipikirkan oleh dinas pertanian, Bulog termasuk bupati Luwu,” desak pengurus pusat IPMIL itu.


