Palopo,Targetindo.com – Beberapa waktu lalu, warga Kota Palopo khususnya Kelurahan Pajalesang, dihebohkan dengan tewasnya dua bocah yang hanyut saat sedang mencari sayur pakis sambil mandi di Sungai Pajalesang (Amassangan).
Oleh warga setempat menamakan, Sungai Pajalesang (Amassangan) ini, dulunya dikenal sebagai “Sungai Beru” atau sungai berpindah-pindah. Sungai Beru terbentang dari Latuppa sampai ke Kelurahan Amassangan.
Dibalik sungai tersebut, ada cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat khususnya warga di Kelurahan Pajalesang, Kota Palopo.
Abdullah, salah satu penduduk asli penduduk di RT02/RW05 Kelurahan Pajalesang saat ditemui dikediamannya bercerita banyak perihal mistis dibalik sungai tempat dua anak tewas yang hanyut terbawa air bah.
Ia menyebutkan di sungai itu dihuni mahkluk gaib berbentuk ikan besar, ular, dan buaya. Dua makhluk yakni, ular kecil dan ikan besar menghuni kolong jembatan Jl KH Ahmad Rasak.
“Ularnya kecil tapi kalau menganga, selebar jala. Jika ikan atau ular kecil itu muncul, bisa jadi itu sebagai pertanda akan terjadi musibah,” kata Abdullah, Selasa, 9 Maret 2021.
Penghuni lain Sungai Beru (Amassangan) yang disebutkannya adalah seekor buaya. Itu merupakan peliharaan salah satu orang tua dulu.
“Ada seekor buaya manusia (jadi-jadian) yang dipelihara warga di sungai itu tapi sekarang pemiliknya sudah meninggal jadi kita sudah tidak tahu dimana buaya itu berada,” sebutnya.
Sebelum kejadian dua anak korban meninggal dunia yang terseret air di sungai itu, diketahui jauh sebelumnya juga pernah terjadi hal yang sama.
“Sekitar 1982, itu masih saya ingat saat orang-orang menonton banjir Sungai Beru di Jembatan Latuppa, kemudian saat asik menonton, tiba-tiba dua orang warga terjatuh dari jembatan, kemudian hanyut dan meninggal dunia,” paparnya.
Informasi yang dihimpun dari Abdullah itu, tentang hal-hal mistis tentang cerita mistis dan penghuni Sungai Beru tersebut juga didengarnya dari bapaknya.
“Karena melanggar pantangan (buang air kecil) dipinggir sungai, bapak saya dulu juga pernah terseret air Sungai Beru saat menggiring kerbau dari sawah menyeberang sungai itu. Tapi Alhamdulillah masih bisa selamat dan hidup sampai sekarang. Beruntung bapak saya saat itu masih ingat cara untuk terhindar dari musibah, dengan melepas semua barang bawaannya seperti pakaian yang dilepas sebagai pengganti nyawa,” tutur Abdullah.
Selain itu, dia juga bercerita histori Jembatan Jl. Ahmad Rasak yang disebutkan Abdullah dihuni dua mahluk halus berwujud ular kecil tapi kalau menganga selebar jala dan ikan besar itu. Kalau dulunya jembatan ini berhasil dibangun oleh orang ketiga.
“Orang ketiga yang berhasil tender pekerjaan jembatan Ahmad Razak itu adalah Andi Sultani. Dia itu orang yang sangat dikenal pada masanya sebagai pawang Luwu. Siapa yang tidak kenal dia, karena dia juga sehingga Jembatan Ahmad Razak itu berhasil dibangun. Karena dua orang sebelumnya yang mau bangun itu jembatan gagal karena, diganggu mahluk halus,” ucap Abdullah.
Kemudian jika dihubungkan peristiwa yang beberapa kali terjadi di Sungai Beru yang kerap kali menelan korban itu lanjut Abdullah mengatakan, dianggap perlu kesadaran warga untuk mengetahui keyakinan penduduk asli disekitar seperti tidak melanggar pantangan berupa tidak takabur.
“Keyakinan yang kita percayai dari orang tua dulu itu, kita dilarang agar jangan membuang air kecil di pinggir sungai, membuang cabai di sungai, mencuci belanga di sungai, mencuci kelambu di sungai dan intinya tidak takabur saat beraktivitas di sungai itu,” pesan Abdullah.
Terpisah, Lurah Pajalesang melalui Kasi Pelayanan Umum Abdul Gafur Junaid berpesan kepada warga khususnya orang tua yang memiliki anak agar maksimal dalam mengawasi anak-anaknya.
“Mendengar cerita dari salah satu orang tua kampung itu, untuk itu dianggap perlu bagi warga lain agar memahami filosofi yang turun-temurun diyakini penduduk asli sekitar. Dan kemudian mengingat saat ini sering hujan di bagian hulu, agar tetap berhati-jika beraktivitas di sungai. Intinya yakin atau tidak dianggap perlu warga lain untuk adaptasi dengan lingkungan,” kata Abdul Gafur Junaid.


